Pages

Senin, 23 Mei 2011

Mama, Izinkan Aku Menikahi Janda….!!!

Braakkkkkk…!!!! mama memukulkan tangannya di meja, berdiri dan berkacak pinggang. Aku tidak menyangka reaksi mama separah ini. Padahal aku hanya bilang kalau aku ingin menikahi Windi.  Tidak bisa………,” lengkingan mama terdengar lagi sekarang lebih nyaring, aku pun diam membisu tak berani menatap mata mama langsung. Akhirnya malam itu terasa panjang sekali, karena aku mendengarkan omelan mama.

Aku adalah seorang laki laki berusia 23 tahun, dan aku anak sulung dalam keluargaku, sekaligus anak laki laki satu satunya, karena kedua adikku semuanya perempuan. Dan Windi adalah kekasihku, dia seorang janda beranak dua usianya sekitar 33 tahun.  Aku mengenalnya dua tahun yang lalu ketika suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas, aku iba melihatnya, mencoba menghiburnya, yang akhirnya membuat kami dekat satu sama lain. Bagiku tidak ada masalah dengan status nya windi, bahkan perbedaan usia yang terpaut jauhpun tak menjadi hambatan bagiku, yang penting aku mencintainya.
Senja itu langit mulai kelam, aku bergandengan tangan dengan Windi menyusuri jalan jalan yang mulai remang dan sunyi. Windi bergelayut manja dilenganku, Ku lingkarkan lenganku di pinggangnya. Dia semakin nyaman dalam rangkulanku. Kami hanya diam, menikmati malam yang semakin larut. Tak ada suara sesekali kulirik Windi, ehmm ….wanita ini memang cantik meski usia nya jauh diatas aku tapi dia tak ubahnya seperti seorang kembang yang sedang mekar, tubuhnya sintal dengan kulit kuning langsat. Wajar saja naluri laki lakiku mengaguminya, meski dia janda beranak dua.
Mama sedang menyiram bunga diteras rumah, kudekati dia. dan kucium keningnya. Aku ingin merayunya sekali lagi, meminta restu agar mama mengizinkan aku menikahi Windi. Mama hanya melirikku sekilas dan melanjutkan kerjanya. Ma….,” kataku pelan. Menunggu reaksi mama. Mama tetap diam dan terus menyirami bunganya. Ma…,” sekali lagi aku memanggilnya dan memberanikan diri berkata, aku mencintainya ma, dan aku tetap ingin menikahinya. Aku diam dengan dada berdebar, apakah mama akan marah besar lagi seperti malam kemarin. Apakah mama akan berteriak teriak  lagi dengan segala alasan tidak setuju  yang diucapkan dari mulutnya. Aku hanya pasrah. Aku mengerti mengapa mama marah, wajar toh orang tua mana yang rela anaknya kawin dengan seorang janda. tapi aku terlanjur mencintai windi. Cintaku tak pakai logika. buktinya aku nekat bilang kemama kalau aku mau menikahi Windi.
Sungguh diluar dugaanku. Mama tak marah malah dia mengajak aku duduk dikursi taman, lalu bertanya, benar kamu mau menikahinya,” tanya mama sambil menatapku dalam. Aku diam kemudian sambil menarik nafas panjang aku menjelaskan argumenku mengapa aku mau menikahi Windi. Mama manggut manggut seakan akan mengerti  dan mau menerima alasanku. Lalu mama memegang pundakku sambil berkata, mama merestui kalian. Mama mengerti alasanmu dan mama bangga denganmu. Kau ingin melindungi Windi dan bersedia menjadi ayah bagi anak anaknya, itu adalah niat yang mulia. Bagaikan seorang anak yang mendapatkan mainan. Aku meloncat dan memeluk mama. terima kasih ma,” kataku. terima kasih telah memberi restu.


0 komentar:

Poskan Komentar