Pages

Rabu, 23 November 2011

Ketik satu satu permataku jatuh....!






Stadium 4 secepatnya harus di operasi, ” kata dokter Ikhsan yang duduk dihadapanku.

” Aku terduduk lemas, mendengar vonis dokter dihadapanku, kelopak mataku perlahan lahan mulai di hiasi butiran air mata. Bagaimana bisa ini terjadi pada putriku , Gia. Selama ini aku tidak pernah melihat suatu kejanggalan dalam fisiknya. Memang putri ke tigaku ini memiliki pribadi yang pendiam dan sedikit tertutup. Apakah selama ini Gia sudah merasakan pusing cukup lama hanya saja tidak bercerita padaku.

Suamiku menggandengku keluar dari ruangan dokter. Kami menuju ruangan dimana Gia di rawat. Cobaan ini begitu berat bagiku. Gia putriku yang cantik harus divonis mengidap penyakit tumor otak. Gia baru berusia 21 tahun. Belum lagi Ramond Putra pertamaku yang sekarang lagi sakit dirumah.Kini harus kutinggal sendiri karena harus merawat dan menjaga Gia dirumah sakit.

“Ma, Gia laper,” Gia berkata lirih sambil terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.

Aku bangkit dan mengambilkan bubur, kusuapi anakku tersebut dengan penuh kasih sayang. Ku belai rambut Gia yang panjang.

“Ma, dokter bilang Gia sakit apa,”?

Kapan Gia boleh pulang ma,?

Aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Gia, Aku tak bisa menahan haru hampir saja air mata ku menetes dipipiku, untung aku masih bisa mengendalikan kesedihanku didepan Gia, aku tidak ingin dia mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Malam sudah larut, aku tak bisa memejamkan mataku. pikiranku berkecamuk dengan keadaan kedua anakku. Gia yang cantik Gia yang malang. Aku bangkit dari tempat dudukku, kutatap Gia tertidur pulas. Aku ambil air wudhu dan mulai sholat tahajud.Aku bersujud kepadaNya, kutumpahkan semua kesedihanku.

*********

Hari yang ditentukanpun tiba. Gia harus masuk ruang operasi untuk mengangkat tumor dikepalanya.

Kupeluk dan kuciumi anakku ini sepuas hatiku, perih hatiku melihat anakku ini harus menjalani operasi besar yang keberhasilannya belum bisa diprediksi.

Dan Ramond masih lepas dari pengawasanku, aku disibukkan dengan Gia, Putraku ini pun menderita sakit liver. Aku menangis mengapa cobaan ini beruntun diberikanNya padaku.

Dua jam berlalu, seluruh anggota keluarga menantikan dengan harap harap cemas, suamiku terlihat gelisah meskipun disembunyikannya dibalik kepura puraannya membaca koran, namun aku tahu kalau sesunngguh dia sangat gelisah menanti keberhasilan operasi.

Julia putri bungsuku terlihat sibuk, dia yang mengurusi semua keperluan Gia dirumah sakit kebetulan dia perawat dirumah sakit dimana Gia dirawat.

Pintu ruang operasi terbuka, dokter keluar.

Aku dan suamiku langsung menemui dokter tersebut.

“Bagaimana dok,” tanyaku tak sabar

Apakah Operasinya berjalan lancar??

Aku menggenggam erat tangan suami , aku takut mendengar berita yang tidak kuinginkan.

Namun sang dokter tersenyum dan terlihat santai, membuatku terlihat sedikit lega

“Ibu, sabar saja kita serahkan semuanya pada yang kuasa,” dokter itu berkata

Operasinya berjalan lancar tumor yang bersarang di kepala Gia sudah berhasil diangkat.

Akupun bahagia mendengar perkataan dokter tersebut.

Senyum baru saja akan mengembang di bibirku, ketika aku mendengar perkataan dokter yang membuat jantungku hampir berhenti berdetak.

” Tumor yang bersarang dikepala Gia mengenai saraf matanya, sehingga bila sadar nanti kemungkinan besar Gia tidak dapat melihat lagi,” dokter itu berkata pelan.

“Aku merasakan dunia ini seperti berputar, aku mencoba menguatkan diriku.

Dan akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lagi, aku terjatuh nyaris pingsan.

Untung suamiku sigap dirangkul aku, mencoba memberi kekuatan pada diriku. Oh tuhan mengapa semua ini harus terjadi pada Gia, mengapa bukan aku saja yang mengalaminya. Berulang kali aku istighfar. Aku memncoba bersabar dan ikhlas.

**************

Senja telah datang, digantikan malam. Aku duduk disamping tempat tidur Gia. Menanti putri kesayanganku ini sadar dari pengaruh obat biusnya. Aku terus berzikir, memohon kepada tuhan semoga putriku diberi kekuatan, bila dia tau bahwa dia tidak bisa melihat lagi.

Aku melihat tangan Gia mulai bergerak. Itu pertanda dia mulai sadar. Ku sentuh dengan lembut tangannya.

Gia, ini mama nak,” bisikku ditelinganya.

Gia mencoba untuk membuka matanya, detik detik berikut nya, dia meraba raba, mencoba untuk menyentuh benda yang ada di dekat nya.

“Mama, gia dimana ?

“Mama, mengapa gia tidak bisa melihat ,”?

Aku cepat memeluk tubuh anakku tersebut, kubelai rambutnya dan mencoba memberinya pengertian dan menguatkannya terhadap apa yang baru dialaminya.

Gia histeris, dia berteriak mengetahui dirinya tidak bisa melihat.

Kakinya meronta rontah, berteriak bahwa dia tidak ingin penglihatannya hilang.

Mas Anton suamiku, memeluk tubuh gia. Butiran bening pun turut menetes di kelopak mata suamiku tersebut.

Aku hanya terdiam, cobaan ini terlalu berat untuk keluargaku. Gia yang masih beliah Gia yang masih punya masa depan, harus rela direnggut kebahagiaannya karena tumor otak tersebut. Mataku sembab, air mata tak henti hentinya mengalir dari kedua mataku.

**********

Hari berganti hari, Gia hanya berdiam diri saja didalam kamar. Dia kehilangan semangat untuk hidup.

Dan aku dengan ikhlas dan sabar terus merawatnya dan memberinya semangat.

Ternyata cobaan tidak berhenti disini.Ramond putraku harus dilarikan kerumah sakit karena sakit livernya tersebut. Kembali aku disibukkan dengan merawat dan menjaga anakku Ramond dirumah sakit. Aku lupa, aku lengah dengan kesehatan anakku tersebut. Aku hanya seorang ibu yang ingin anakku sehat, aku tak peduli lagi dengan fisikku yang mulai lemah. Dan ketika fisikku melemah karena sibuk merawat dan menjaga Gia, aku lupa dengan kesehatan Ramond. Dan semuanya diluar prediksiku lima hari ramond dirawat di rumah sakit. Nyawanya tidak bisa tertolong lagi. Tubuhnya pucat pasih,kurus dengan perut membuncit. Aku meraung sejadi jadinya, aku menangis ketika ku sadar anakku sudah tak bernyawa lagi.

Semua nya seperti mimpi, dua permataku satu per satu berjatuhan. Aku bersimpuh dihadapanNya memohon agar diberi ketabahan dan ketegaran atas semua cobaan yang diberikanNya saat ini pada keluargaku.

Hari mendung, rinai hujan mengiringi kepergian Ramond, seluruh keluarga kerabat, sahabat mengantar Ramond ke peristirahatan terakhirnya.

Ku kecup pusaran nya, kubisikkan kata kata pada nya, tenanglah kau disisiNya, buah hati mama. Kau adalah amanah yang dititipkan kepada mama, dan kini DIA memanggilmu, tak ada pilihan lain bagi mama kecuali megikhlaskanmu.

Prosesi pemakaman Ramond anakku selesai sudah.

Setiap malam kami melakukan yasinan. Dan Gia masih tergeletak lemah ditempat tidurnya.

Aku cium keningnya putriku ini. Walau bagimanapun keadaannya dia tetap permataku. buah hatiku

Dan semalam adalah hari ketiga diadakannya yasinan atas berpulangnya Ramond anakku.

Ucapan belasungkawa terus mengalir, memberikan ketegaran bagiku.

“Kita pasti pernah mendapat cobaan seakan hidup ini tak ada artinya lagi,”

*********************************

terinsipirasi dari kisah nyata tetanggaku yang kini sedang mengalami cobaan, karena musibah yang menimpa kedua anaknya.


0 komentar:

Poskan Komentar